JAKARTA - Tren konsumsi digital masyarakat Indonesia mengalami perubahan menarik pada semester kedua 2025, di mana tren hiburan digital justru melemah sementara kegemaran membaca terutama di kalangan Generasi Z (Gen Z) menonjol dibanding generasi lain. Temuan ini berdasarkan survei yang dilakukan oleh Jakpat dan dipublikasikan oleh GoodStats Data pada 12 Februari 2026.
PERGESERAN POLA KONSUMSI DIGITAL MASYARAKAT
Perubahan pola konsumsi digital pada tahun 2025 tidak terlepas dari penurunan minat terhadap aktivitas hiburan digital yang bersifat pasif seperti menonton video atau mendengarkan musik. Survei tersebut menunjukkan bahwa meskipun media sosial seperti YouTube, Instagram, dan TikTok masih menjadi aktivitas utama, tingkat penggunaannya menurun dibanding tahun sebelumnya. Aktivitas lain seperti bermain gim dan mendengarkan musik melalui layanan streaming juga mengalami penurunan penggunaan di kalangan responden. Hal ini menunjukkan bahwa masyarakat mulai menggeser sebagian waktu layar mereka dari hiburan murni ke aktivitas yang lebih reflektif dan bermakna.
Di tengah penurunan tren hiburan digital, membaca muncul sebagai pengecualian yang menarik. Aktivitas membaca—yang mencakup membaca buku, artikel, atau konten teks lainnya—tercatat memiliki persentase yang lebih tinggi dibandingkan aktivitas menonton atau mendengarkan konten melalui platform digital. Temuan ini menunjukkan bahwa tidak semua penggunaan gawai di era digital dipenuhi oleh konsumsi konten visual; membaca tetap mendapatkan tempat tersendiri dalam kehidupan digital masyarakat, terutama Gen Z.
DOMINASI GEN Z DALAM AKTIVITAS MEMBACA
Jika dilihat berdasarkan kelompok usia, Gen Z menonjol sebagai generasi dengan tingkat aktivitas membaca tertinggi, mencapai 26 persen. Angka ini lebih tinggi dibandingkan Milenial yang mencatatkan 20 persen dan Generasi X dengan 18 persen. Artinya, meskipun semua generasi merasakan penurunan minat terhadap hiburan digital, Gen Z menunjukkan kecenderungan yang lebih kuat untuk melakukan aktivitas membaca dibandingkan generasi lain.
Kepala Bidang Riset Jakpat, Aska Primardi, menilai pergeseran ini merupakan perubahan paradigma penggunaan layar Gen Z. “Gen Z saat ini cenderung mengalihkan waktu layar mereka dari konsumsi konten pasif yang berulang menuju aktivitas membaca yang dinilai lebih bermakna dan menenangkan,” ujarnya. Pernyataan ini menunjukkan bahwa minat baca Gen Z bukan semata karena menjauh dari gawai, namun lebih karena adanya preferensi yang berubah terhadap jenis konten yang dikonsumsi.
Berdasarkan data tersebut, gen Z tidak hanya membaca buku secara fisik, tetapi juga memanfaatkan platform digital untuk membaca artikel, novel, atau konten lain yang menawarkan kedalaman informasi dibanding konten hiburan biasa. Hal ini menunjukkan literasi digital di kalangan Gen Z tidak sekadar konsumtif, tetapi juga kritis dan reflektif.
PERAN MEDIA SOSIAL DALAM MEMPOPULERKAN AKTIVITAS MEMBACA
Perubahan persepsi Gen Z terhadap membaca juga tidak lepas dari peran media sosial. Platform seperti TikTok dan Instagram memiliki subkomunitas seperti BookTok dan Bookstagram yang kian populer di kalangan pengguna muda. Komunitas ini berhasil mengemas aktivitas membaca sebagai sesuatu yang menarik secara sosial, emosional, dan identitas budaya. Aktivitas membaca tidak lagi dilihat sebagai kegiatan akademik yang membosankan, tetapi sebagai simbol status dan gaya hidup baru yang relevan dengan kehidupan Gen Z di era digital.
Media sosial telah menjadi alat yang efektif untuk mempopulerkan tren membaca di kalangan Gen Z. Algoritma platform digital ini menampilkan konten yang menonjolkan pengalaman membaca, ulasan buku, dan rekomendasi bacaan sehingga aktivitas membaca terlihat menarik dan beresonansi dengan kebutuhan emosional serta identitas sosial generasi muda. Fenomena ini menunjukkan bagaimana media sosial bisa berperan positif dalam meningkatkan literasi digital melalui cara yang sesuai dengan preferensi pengguna Gen Z.
KENAICIAN MINAT BACA SECARA NASIONAL
Selain tren di kalangan Gen Z, data dari Badan Pusat Statistik (BPS) juga menunjukkan tren kenaikan dalam Indeks Tingkat Kegemaran Membaca (TGM) nasional. Indeks ini meningkat dari 66,77 pada tahun 2023 menjadi 72,44 pada tahun 2024, menunjukkan bahwa minat membaca secara keseluruhan di Indonesia terus tumbuh. Kenaikan ini selaras dengan temuan survei Jakpat bahwa aktivitas membaca semakin diminati oleh berbagai kelompok usia di masyarakat, khususnya Gen Z.
Meskipun demikian, peningkatan tren minat membaca ini tidak berarti masyarakat secara keseluruhan meninggalkan aktivitas hiburan digital sama sekali. Sebaliknya, ini menunjukkan bahwa ada diversifikasi dalam cara orang menggunakan perangkat digital mereka. Sementara hiburan visual masih menarik banyak pengguna, ada peningkatan minat terhadap konten berbasis teks yang menawarkan kedalaman dan refleksi.
MAKNA DAN DAMPAK PERUBAHAN POLA KONSUMSI DIGITAL
Perubahan ini mencerminkan evolusi preferensi digital yang lebih kompleks daripada sekadar penurunan atau peningkatan satu jenis aktivitas saja. Generasi muda seperti Gen Z melihat membaca sebagai cara untuk menemukan makna, menenangkan pikiran, dan memperluas wawasan. Ketertarikan tersebut bisa menjadi indikator penting manakala masyarakat digital masa depan semakin sadar akan nilai konten yang mereka konsumsi.
Dengan latar belakang tersebut, tren minat baca yang meningkat di kalangan Gen Z menjadi fenomena sosial yang patut diperhatikan. Ini bukan hanya soal perubahan preferensi hiburan, tetapi juga cerminan bagaimana generasi muda membentuk identitasnya melalui konsumsi konten yang lebih bermakna dan reflektif di tengah dominasi teknologi digital.