PROPERTI

Tak Hanya Rumah dan Apartemen, Properti Baru Kini Kian Diminati Publik

Tak Hanya Rumah dan Apartemen, Properti Baru Kini Kian Diminati Publik
Tak Hanya Rumah dan Apartemen, Properti Baru Kini Kian Diminati Publik

JAKARTA - Perkembangan sektor properti di Indonesia menunjukkan dinamika yang semakin luas, seiring munculnya berbagai jenis aset baru yang mulai menarik perhatian investor dan pengembang. Tidak lagi terbatas pada rumah tapak, apartemen, perkantoran, atau pusat perbelanjaan, kini hadir ragam properti inovatif yang menyesuaikan kebutuhan zaman dan perubahan perilaku masyarakat. Fenomena ini menjadi sinyal bahwa industri properti nasional tengah memasuki fase transformasi penting, dengan orientasi yang lebih adaptif terhadap perkembangan ekonomi dan teknologi global .

Transformasi Sektor Properti di Era Ekonomi Baru

Perubahan lanskap properti ini dikenal dengan istilah new economy in property sector, sebuah konsep yang berkembang pesat di tingkat regional dan internasional. Head of Research & Consulting CBRE Indonesia, Anton Sitorus, menjelaskan bahwa istilah tersebut merujuk pada sektor-sektor properti yang tumbuh mengikuti kondisi ekonomi dan kebutuhan masyarakat masa kini. Menurutnya, tren ini telah lama berkembang secara global dan kini mulai menunjukkan pengaruh signifikan di Indonesia.

"New Economy in Property Sector itu adalah sektor-sektor yang berkembang sesuai dengan kondisi zaman dan ekonomi yang berkembang sekarang ini," kata Anton dalam media briefing CBRE Indonesia mengenai pasar properti kuartal IV 2025 di Jakarta Mori Tower, Jakarta Pusat, Rabu, 11 Februari 2026.

Selama ini, masyarakat lebih mengenal sektor properti konvensional atau old economy in property sector, yang meliputi perumahan, gedung perkantoran, pusat perbelanjaan, apartemen, dan hotel. Namun, seiring perubahan gaya hidup serta kemajuan teknologi, muncul kebutuhan akan aset properti dengan fungsi dan konsep yang lebih spesifik.

Munculnya Sektor Properti Inovatif dan Alternatif

Dalam beberapa tahun terakhir, sektor properti baru mulai diminati oleh investor internasional maupun pengembang lokal. Beberapa di antaranya adalah aset di bidang kesehatan atau healthcare, pusat data (data center), gudang modern dengan fasilitas canggih, hingga living sector yang menawarkan konsep hunian berbeda dari biasanya.

Untuk sektor hunian, misalnya, terdapat konsep retirement village yang ditujukan bagi para lansia yang ingin menikmati masa pensiun secara mandiri, terpisah dari anak-anak mereka. Selain itu, terdapat pula hunian dengan konsep co-living yang banyak digemari oleh generasi muda, karena menawarkan fleksibilitas, efisiensi biaya, serta ruang sosial yang lebih dinamis.

Anton menegaskan bahwa berbagai jenis properti ini dapat dikategorikan sebagai sektor baru yang menjadi alternatif aset investasi. "Nah itu tipe-tipe sektor properti yang boleh dibilang baru lah yang dibilang sebagai new economy atau alternatif aset," imbuhnya.

Dominasi Properti Kesehatan dalam Survei Asia Pasifik

Berdasarkan hasil survei di kawasan Asia Pasifik, fasilitas kesehatan menempati posisi teratas sebagai sektor properti dengan tingkat permintaan tertinggi. Fasilitas ini mencakup pusat life science, medical office, serta berbagai infrastruktur kesehatan modern yang mendukung layanan medis berteknologi tinggi.

Indonesia pun mulai mengembangkan tipe properti ini, sejalan dengan meningkatnya kebutuhan layanan kesehatan yang berkualitas dan terjangkau. Pertumbuhan jumlah penduduk, peningkatan kesadaran masyarakat terhadap kesehatan, serta perkembangan teknologi medis menjadi faktor pendorong utama meningkatnya minat terhadap sektor ini.

Selain fasilitas kesehatan, sektor properti yang menempati peringkat kedua dalam survei tersebut adalah real estate debt atau utang properti. Dalam konteks ini, investor memandang utang real estate sebagai salah satu alternatif aset yang menjanjikan, terutama dalam kondisi pasar yang membutuhkan fleksibilitas pembiayaan.

Data Center Jadi Primadona Baru di Era Digital

Di peringkat berikutnya, data center menjadi salah satu sektor properti yang mengalami pertumbuhan pesat. Kebutuhan akan pusat data terus meningkat seiring berkembangnya teknologi digital, penggunaan internet, serta ketergantungan masyarakat pada perangkat pintar.

Anton menuturkan bahwa berbagai riset pabrik memproyeksikan pertumbuhan data center akan terus meningkat secara signifikan di masa mendatang. Hal ini tidak terlepas dari semakin masifnya aktivitas digital, mulai dari komunikasi, transaksi keuangan, hingga pengelolaan data berskala besar.

"Data center ini masih akan terus berkembang selama kita pegang handphone, selama kita pakai internet, selama kita butuh apa-apa itu lewat handphone," tuturnya.

Pernyataan tersebut menggambarkan betapa krusialnya peran data center dalam mendukung ekosistem digital. Dengan semakin banyaknya perusahaan teknologi, platform e-commerce, serta layanan berbasis aplikasi, kebutuhan akan pusat data yang aman, andal, dan efisien menjadi semakin mendesak.

Peluang Investasi dan Tantangan Pengembangan

Munculnya berbagai sektor properti baru ini membuka peluang investasi yang luas, baik bagi investor domestik maupun asing. Namun, di sisi lain, pengembang juga dihadapkan pada sejumlah tantangan, mulai dari kebutuhan modal besar, regulasi, hingga kesiapan infrastruktur pendukung.

Dalam konteks healthcare property, misalnya, pengembangan fasilitas kesehatan modern membutuhkan investasi tinggi, teknologi mutakhir, serta tenaga profesional yang kompeten. Sementara itu, pembangunan data center memerlukan standar keamanan, kelistrikan, dan konektivitas yang sangat ketat.

Meski demikian, potensi keuntungan jangka panjang dari sektor-sektor ini dinilai cukup menjanjikan. Permintaan yang terus meningkat, didukung oleh tren global dan perubahan gaya hidup, menjadikan properti jenis baru sebagai salah satu alternatif investasi strategis.

Arah Baru Industri Properti Nasional

Tren new economy in property sector menandai arah baru perkembangan industri properti di Indonesia. Tidak hanya fokus pada penyediaan hunian dan ruang usaha konvensional, pengembang kini dituntut untuk lebih inovatif dalam merancang produk yang relevan dengan kebutuhan zaman.

Kehadiran co-living space, retirement village, fasilitas kesehatan modern, hingga data center menunjukkan bahwa properti kini tidak sekadar menjadi tempat tinggal atau berusaha, melainkan juga bagian dari ekosistem sosial, ekonomi, dan teknologi.

Dengan dukungan kebijakan yang tepat, infrastruktur yang memadai, serta kolaborasi antara pemerintah, pengembang, dan investor, sektor properti Indonesia berpotensi tumbuh lebih inklusif dan berkelanjutan. Transformasi ini diharapkan mampu menjawab tantangan masa depan sekaligus membuka peluang baru bagi pertumbuhan ekonomi nasional .

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index